Detoksifikasi Emosi Melalui Mindful Communication: Strategi Manajemen Konflik Keluarga dan Sebaya Pada Siswa SMK Islam Faradisa
DOI:
https://doi.org/10.59395/ahsana.v4i2.452Keywords:
Mindful Communication, Regulasi Emosi, Participatory Action Learning System (PALS), Pengabdian Kepada MasyarakatAbstract
Permasalahan sosial-emosional remaja, seperti kesulitan mengelola emosi dan kecenderungan memendam perasaan, dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan kualitas hubungan interpersonal siswa. Survei awal terhadap siswa SMK Islam Faradisa menunjukkan bahwa 58% siswa memilih diam dan 50% sangat sering memendam masalah saat menghadapi konflik keluarga maupun teman sebaya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran emosional, kemampuan regulasi emosi, dan keterampilan komunikasi siswa melalui pendekatan mindful communication. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Learning System (PALS) yang dilaksanakan melalui lima tahapan: emotional awareness, emotion regulation, mindful communication training, simulasi konflik, serta refleksi dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai kesadaran emosi, pengelolaan emosi, dan komunikasi yang lebih sehat dalam menghadapi konflik. Program ini membuktikan bahwa mindful communication efektif digunakan sebagai strategi detoksifikasi emosi untuk memperkuat kecerdasan emosional, keterampilan komunikasi interpersonal, dan kemampuan manajemen konflik pada remaja.
Downloads
References
Ali, M., & Asrori, M. (2010). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik. Bumi Aksara.
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development. Harvard University Press.
Burgoon, J. K., Berger, C. R., & Waldron, V. R. (2000). Mindfulness and interpersonal communication. Journal of Social Issues, 56(1), 105–127.
Chambers, R. (1994). The origins and practice of participatory rural appraisal. World Development, 22(7), 953–969. https://doi.org/10.1016/0305-750X(94)90141-4
Desmita. (2017). Hubungan antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan, 6(2), 120–129.
Glass, L. (2015). Toxic people: 10 ways of dealing with people who make your life miserable. Simon & Schuster.
Gratz, K. L., & Roemer, L. (2004). Multidimensional assessment of emotion regulation and dysregulation: Development, factor structure, and initial validation of the difficulties in emotion regulation scale. Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, 26, 41–54.
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840X.2014.940781
Gunawan, T., & Pratiwi, L. (2023). Penerapan metode participatory action learning dalam psikoedukasi siswa menengah. Jurnal Komunikasi Pemberdayaan, 5(1), 60–78.
Hurlock, E. B. (2002). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan rentang kehidupan (5th ed.). Erlangga.
Jones, S. M., & Hansen, W. D. (2015). The impact of mindfulness on supportive communication skills: Three exploratory studies. Mindfulness, 6(5), 1115–1128. https://doi.org/10.1007/s12671-014-0362-7
Kabat-Zinn, J. (2013). Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to face stress, pain, and illness (Rev. ed.). Bantam Books.
Kusuma, B., & Ardiansyah, M. (2021). Mindful communication: Strategi alternatif pemulihan hubungan sosial pascapandemi. Jurnal Ilmu Komunikasi Sosial, 11(3), 75–92.
Lestari, S., & Wulandari, R. (2020). Regulasi emosi dan pengaruhnya terhadap interaksi sosial remaja. Jurnal Psikologi Sosial, 18(1), 33–42.
Ningrum, L. D. K. (2023). Social and psychological determinants of emotion regulation in adolescents. Jurnal Psikologi Perkembangan.
Pangastuti, S. C., & Nuryono, W. (2019). Pengembangan buku cerita untuk meningkatkan literasi emosional dengan teknik metafora pada siswa kelas X di SMA Trimurti Surabaya. Jurnal BK UNESA, 9(3).
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2014). Menyelami perkembangan manusia (12th ed.). Salemba Humanika.
Prasetyo, A., & Lestari, R. (2021). Regulasi emosi dan stres akademik pada siswa sekolah menengah. Jurnal Psikologi Pendidikan Indonesia, 10(2), 101–112.
Pretty, J. N. (1995). Participatory learning for sustainable agriculture. World Development, 23(8), 1247–1263. https://doi.org/10.1016/0305-750X(95)00046-F
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan remaja. Erlangga.
Sharma, P., George, L., Rai, S., & Noronha, J. (2025). Factors affecting and the strategies to enhance emotional regulation among adolescents in South Asian countries: A systematic review.
Sulhan, N. A. A. (2024). Periodisasi perkembangan anak pada masa remaja: Tinjauan psikologi. Behavior, 1(1), 9–36.
Thompson, R. A. (1994). Emotion regulation: A theme in search of definition. Monographs of the Society for Research in Child Development, 59, 25–52.
Van Eickels, R. L., Tsarpalis-Fragkoulidis, A., & Zemp, M. (2022). Family cohesion, shame-proneness, expressive suppression, and adolescent mental health—A path model approach. Frontiers in Psychology, 13. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.803231
Wahyuni, E., & Pratama, H. (2021). Konsep diri dan hubungannya dengan kepercayaan diri siswa dalam pembelajaran. Jurnal Pendidikan Indonesia, 10(3), 210–219.
Widyastuti, L., Sukmana, P. D., Nugina, G., & Nurafrizki, R. (2025). Peran interpersonal mindfulness sebagai kunci keterampilan komunikasi efektif di kalangan mahasiswa. Citizen: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, 5(5), 1459–1468.
Wylie, M., De France, K., & Hollenstein, T. (2022). Adolescents suppress emotional expression more with peers compared to parents and less when they feel close to others. International Journal of Behavioral Development, 47(1), 3–10.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fikri Azis, Nabila Sekar Arum Hasanah, Rievan Hutama

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

























